Halaman Utama E-mail Peta Situs Kontak Kami
  Newsflash  
Stres Dapat Merusak Tulang
Ditulis oleh Administrator   
Wednesday, 15 May 2013
Hati-hati, Stres Dapat Merusak Tulang

Tolong LIKE/suka dan Share/bagikan agar bermanfaat bagi yang lain. Stres zaman ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, bahkan anak-anak pun dapat mengalami stres. Stres dalam bentuk frustasi, kemarahan, kecemasan, depresi dan dalam bentuk apapun ternyata dapat menjadi sesuatu yang mengerikan bagi tulang.

Berdasarkan sebuah studi yang dikutip dari Times of India, Selasa (23/4/2013) dikatakan bahwa stres dapat mengurangi jumlah mineral di dalam tubuh.

Adanya Kortisol yang Terdeteksi

Studi berulang telah menunjukkan bagaimana stres negatif memengaruhi kepadatan mineral tulang, yang merupakan jumlah bahan mineral per sentimeter persegi tulang. Dr Pradeep Bhonsle, Kepala Ortopedi di Rumah Sakit KEM, mengatakan stres memainkan peran penting secara pelahan tapi pasti yang akan memicu timbulnya osteoporosis.

Jaringan tulang dalam tubuh dijalankan oleh dua jenis sel: osteoblas yang membantu dalam penyetoran jaringan tulang baru dan osteoklas yang memecah jaringan tulang tua. Nah, kepadatan tulang ditentukan oleh tingkat di mana sel-sel ini bekerja.

"Saat stres, kelenjar adrenal akan meningkatkan produksi kortisol. Kortisol, yang dikenal sebagai 'hormon stres' seperti itu dikeluarkan oleh tubuh dalam respons terhadap stres , dapat mengurangi kepadatan tulang dengan menghambat osteoblast tulang-bangunan," katanya.

Dengan menurunnya aktivitas osteoblas, jaringan tulang dalam tubuh akan lebih banyak dipecah daripada disimpan. Kepadatan tulang yang rendah akhirnya menyebabkan osteoporosis. Menariknya, Amerika yang memiliki angka asupan kalsium tertinggi merupakan pemegang tinkgat tertinggi osteoporosis.

Solusinya, para ahli kesehatan mengatakan tidak bisa hanya dengan mendapatkan lebih banyak kalsium, tetapi juga dengan mengurangi buar air. "Ketika Anda menghadapi stres, Anda kehilangan kalsium melalui urine. Kortisol berlebih dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan kalsium dan menimbulkan lonjakan ekskresi." kata Dr Bhonsle menambahkan.

Serangan Asam

Tak perlu dikatakan, asam fosfat dalam minuman ringan bertindak sebagai agen korosif dan merupakan penyebab utama kalsium dan kehilangan mineral dari tulang dan gigi. Dr Bhonsle menunjukkan bahwa efek stres memiliki reaksi dan hasil yang sama.

"Stres menyebabkan keasaman yang menghambat pencernaan yang optimal dari makanan. Keasaman ini juga menghambat metabolisme mineral yang penting untuk kesehatan tulang. Bahkan, tanpa penyerapan mineral ini, diet yang sangat bergizi tidak ada gunanya untuk tulang Anda," katanya.

Waspadai Depresi

Studi juga menemukan bahwa orang yang menderita depresi memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah dan lebih rapuh daripada yang lain. Ketika depresi, otak menggunakan sistem saraf simpatik (yang merespon bahaya yang akan datang atau stres) untuk meningkatkan sekresi noradrenalin dalam tulang, zat kimia yang menghambat osteoblast. Peneliti mengatakan bahwa depresi meniru efek dari stres.

Bijaklah dalam Memilih Makanan

Stres dan perasaan 'down' secara konstan membuat orang mencari kenyamanan dalam 'junk food' yang tidak kaya akan kalsium, magnesium dan nutrisi penting lainnya yang membantu mencegah osteoporosis. "Pilihan makanan yang salah tersebut diterjemahkan ke dalam nutrisi tulang yang tidak memadai.

Selain itu, waktu makan yang tidak menentu dan aktivitas multitasking seperti makan sambil SMS atau bekerja akan menghalangi proses pencernaan yang optimal. Tentu saja, asupan rutin vitamin D3, yang diperoleh dari matahari pagi juga penting karena membantu dalam pemanfaatan mineral dalam tulang.

Untuk diketahui osteoporosis adalah penyakit di mana tulang menjadi tipis, rapuh dan rentan terhadap fraktur. Tulang yang ada seharusnya terus-menerus digantikan oleh tulang baru. Faktor risiko untuk kondisi ini termasuk penuaan, berat badan rendah, hormon seks rendah seperti selama menopause, alkoholisme dan merokok.

Hal ini dapat dicegah dan diobati dengan meningkatkan asupan kalsium dan vitamin D. Akibat menderita osteoporosis, sekitar setengah dari semua perempuan di atas usia 50 akan menderita patah tulang pinggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang.

v: detik health
 
PNS Lebih Berpeluang Beri ASI Esklusif
Ditulis oleh Administrator   
Wednesday, 15 May 2013

Perempuan dari kalangan pegawai pemerintahan berpeluang lebih besar memberikan ASI ekslusif kepada buah hatinya. Pemberian ASI selama 6 bulan ini bisa diberikan penuh sesuai kebutuhan bayi.

"PNS lebih memungkinkan karena jam kerjanya yang lebih fleksibel. Kesempatannya hampir 50 persen lebih besar," kata peneliti Ray Basrowi dari Program Pendidikan Magister Kedokteran Kerja Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, Selasa (14/5/2013) di Jakarta.

Ray menggelar penelitian bertajuk Pemberi ASI Eksklusif pada Perempuan Pekerja Sektor Formal. Dari penelitiannya terungkap, hanya 32 persen pekerja sektor formal yang dapat memberi ASI eksklusif. Penelitian dilakukan terhadap 192 subyek, yang terdiri atas 77 pegawai negeri sipil (PNS) dan 115 pekerja pabrik dari semua strata pekerja. Riset dilakukan pada 4 instansi pemerintahan dan 2 swasta di Jakarta. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara acak.

Dalam penelitian yang dilakukan lewat pengisian kuesioner dan wawancara ini, para responden menganggap padatnya jam kerja sebagai penyebab utama. "Waktu istirahat pekerja pabrik sangat terbatas. Padahal untuk bisa memerah ASI atau menyusui, pekerja harus merasa nyaman," kata Ray.

Akibatnya, pekerja pabrik yang tidak bisa memberikan ASI mencapai 78 persen. Sementara pekerja kantor hanya 51,9 persen. Ruang menyusui yang tidak representatif menjadi penyebab utama. Ray mengatakan untuk memerah ASI, rata-rata dibutuhkan 40 sampai 60 menit bolak balik.

Padahal, waktu istirahat yang tersedia hanya 1 jam. Akibatnya, ibu tidak bisa lagi menikmati waktu istirahatnya. Waktu yang lebih fleksibel sangat dibutuhkan ibu yang sedang menyusui, untuk memerah ASInya.

"Apa yang terjadi di instansi pemerintah bisa ditiru. Paling dalam satu instansi tidak sampai 20 persen ibu yang menyusui, apa salahnya memberi waktu lebih fleksibel," kata Ray.

Pemberian ASI eksklusif sangatlah penting. ASI yang diberikan dalam waktu 6 bulan, akan menjamin ketahanan tubuh dan proses tumbuh kembang anak. Dalam data Riskesdas 2010, hanya 32 persen ibu yang bisa memberikan ASI eksklusif. Sementara jumlah pekerja wanita menurut Bappenas 2011 ada sekitar 81,5 juta.

"Sekitar 25 persen pekerja produktif adalah ibu. Kalau hal ini tidak diperhatikan, 25 juta anak Indonesia terancam tumbuh tidak sehat," kata Ketua Departemen Kedokteran Komunitas FKUI, Dr.dr.Astrid Widjajati Sulidtomo, MPH,Sp.Ok.

v: kompas health

 
Agar Terhindar dari Obat Palsu
Ditulis oleh Administrator   
Monday, 13 May 2013

Kompas.com - Masih banyaknya obat palsu yang beredar di pasaran membuat konsumen harus lebih jeli membedakan mana obat yang layak konsumsi atau tidak.

Kepala Pusat Informasi Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Reri Indriani mengatakan, secara kasat mata obat palsu memang sulit dibeadakan dari obat asli. Metode terbaik adalah melalui uji laboratorium. Karena itu cara paling sederhana untuk mencegah konsumsi obat palsu adalah membeli di apotek yang terpercaya.

"Untuk menghentikan peredaran obat palsu juga dibutuhkan pengurangan permintaan dari obat palsu sendiri. Masyarakat harus lebih cerdas dan kritis," katanya.

Obat palsu berasal dari limbah obat yang sudah kadaluarsa. Selain tidak akan mengobati penyakit, obat-obatan tersebut justru meracuni tubuh, bahkan menyebabkan kematian.

Dalam acara BPOM Sahabat Ibu yang bertajuk "STOP: Supaya Terhindar (dari) Obat Palsu" di Jakarta, Selasa (28/3/2013), Reri memberikan kiat agar terhindar dari obat palsu.

1. Belilah obat di tempat penjualan resmi. Obat keras hanya bisa didapatkan di apotek dengan menggunakan resep dokter, sedangkan obat bebas dan obat bebas terbatas dapat dibeli di apotek dan toko obat berizin.

2. Periksa label yang tercantum pada kemasan obat, yang meliputi nomor izin edar obat yang terdiri dari 15 digit, nama obat, nama dan alamat produsen, serta tanggal kadaluarsa produk.

3. Periksa kemasan obat dengan teliti. Obat harus tersegel dengan baik, warna dan tulisan pada kemasan masih baik, tidak luntur ataupun cacat lainnya.

4. Sampaikan kepada dokter apabila tidak memberikan efek terapi yang diharapkan atau tidak ada kemajuan setelah mengonsumsi obat.

 

From health.compas.com

 
Gula Darah Tinggi Tingkatkan Risiko Alzheimer
Ditulis oleh Administrator   
Monday, 13 May 2013

 

 

 

 

 

 

 

Tak hanya diabetes, kadar gula tinggi dalam darah pun juga menjadi faktor risikoAlzheimer. Sebuah studi baru yang dimuat jurnalNeurology menemukan, mereka yang memiliki risiko penyakit kepikunan Alzheimer mengalami peningkatan kadar gula dalam darahnya. 


Studi sebelumnya menemukan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko Alzheimer. Namun riset terbaru yang dilakukan para peneliti dari University of Arizona ini ingin menguji apakah kadar gula darah tinggi pada orang non-diabetes juga dapat meningkatkan risiko Alzheimer.

Studi ini melibatkan 124 orang relawan berusia 47 hingga 68 tahun dan tidak menderita diabetes. Para peserta memiliki fungsi otak yang normal, namun keluarga mereka memiliki riwayat Alzheimer. Relawan ini menjalani pemindaian untuk mengetahui aktivitas metabolisme pada otak.

Seseorang yang menderita Alzheimer biasanya akan menunjukkan penurunan metabolisme pada area tertentu dalam otak. Ternyata, pada orang dengan kadar gula darah yang tinggi juga ditemukan pola penurunan metabolisme tertentu pada area otak tersebut.

Pimpinan penelitian ini, Christine Burns mengatakan bahwa hasil temuan ini diharapkan dapat berguna dalam mengembangkan intervensi dini Alzheimer.

"Banyak riset berharga yang memfokuskan pada pengobatan dan perlambatan penurunan kognitif pada pasien Alzheimer. Studi ini dapat semakin melengkapi riset-riset sebelumnya dengan intervensi yang dapat diimplementasikan lebih awal, mungkin saat usia paruh baya," papar Burns.

Faktor risiko Alzheimer yang selama ini sudah diketahui adalah  usia dan keturunan, namun ada pula faktor-faktor lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Studi ini menemukan kaitan antara penyakit Alzheimer dengan kadar gula darah yang tinggi, namun belum dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat.

 
via: kompas health 
Terakhir Diperbaharui ( Monday, 13 May 2013 )
 
Lanjut...
<< Mulai < Sebelumnya 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 186 - 190 dari 223
 
Polls
Bagaimana kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung ?
 
Latest News
Popular
 
Hak Cipta © Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung