Halaman Utama E-mail Peta Situs Kontak Kami
Lima Kecamatan di Kabupaten Bandung disinyalir endemis DBD Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator Dinkes   
Thursday, 15 January 2009

Sebanyak lima kecamatan di Kab. Bandung yaitu Kec. Pameungpeuk, Cileunyi, Banjaran, Katapang, dan Kec. Margahayu disinyalir endemis DBD.

 

Menurut Kadinkes Kab. Bandung , dr. Ahmad Kustijadi, M.Epid., penetapan suatu wilayah dalam kategori endemis DBD bila di daerah tersebut selama 3 tahun berturut-turut warganya ada yang positif terkena DBD.

Selain endemis, ada dua kategori lainnya, yaitu sporadis dan potensial. Ada juga daerah bebas. Sekarang ini akibat efek pemanasan global, tidak ada lagi daerah bebas karena kategori wilayah tersebut yang berada 1.000 meter banyak warganya yang juga terkena DBD.

Seseorang yang terkena DBD, ditandai dengan turunnya trombosit, kekentalan darah (hematrosit) naik lebih dari 20%, darah putih (lekosit) turun, serta IgG IgM turun. Memang walaupun unsur-unsur tadi tidak terpenuhi setelah pengecekan di laboratorium, untuk antisipasi bila seseorang panas, lebih baik ditangani dengan diagnosis suspect DBD.

Disebutkannya, Dinkes Kab. Bandung selama tiga bulan terakhir melihat kecenderungan kenaikan kasus DBD di berbagai wilayah di Kab. Bandung . Pada Oktober tercatat 169 kasus, November 167, dan Desember 224 kasus. Keadaan ini harus cepat kita waspadai.

Selama tahun 2008 tercatat 1.371 kasus DBD yang menyebabkan 20 orang meninggal dunia. Jumlah ini masih di bawah CFR (case fatality rate) secara nasional yaitu 1,5, dan Kab. Bandung baru mencapai 1,4.

Kasus DBD selain menjadi tugas pemerintah, juga harus dibarengi dengan perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungannya masing-masing. Pemerintah berkewajiban memberikan sosialisasi selain juga mobilisasi, sedangkan masyarakat harus mengubah perilakunya.

 

 Selain itu Dinkes Kab. Bandung akan meniru Malaysia dalam penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD), dengan memasang ovi trap di rumah-rumah daerah endemis DBD. Hal itu dikatakan Kepala Dinkes Kab. Bandung , dr. Ahmad Kustijadi, M.Epid.

Rencana tersebut akan kami gulirkan dalam anggaran 2009 ini dan mudah-mudahan ada hasil yang signifikan dengan dipasangnya jebakan nyamuk tersebut pada rumah-rumah di daerah endemis DBD.

 

Alat jebakan yang pada tahap awal akan dipasang untuk 1.000 rumah dengan masing-masing dua alat tersebut merupakan model yang diadopsi dari negara Malaysia .

Alat tersebut nantinya adalah merupakan sebuah media untuk nyamuk bertelur dan di bagian atasnya telah dipasangi kasa. Alat itu didesain agar nyamuk bisa bertelur di sana dan ketika telur sudah menjadi nyamuk tidak bisa keluar dari tempatnya karena sudah terhalang oleh kain kasa..

Selain akan memasang ovi trap, Dinkes Kab. Bandung pun menggulirkan program "Jumantik" (Juru Pemantau Jentik) dalam 2009 untuk langkah preventif penyebaran DBD. Kita akan latih kader di tiap desa menjadi juru pemantau jentik dan bagi mereka akan diberikan honor yang berasal dari anggaran daerah.

 

 Kendati demikian, salah satu cara efektif untuk mencegah penyebaran DBD adalah dengan mengubah perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungannya sendiri melalui gerakan PSN.

 

 Sumber : “Dikutip dari Harian Umum Galamedia, Edisi Rabu 14 januari 2008”

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 15 January 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 
Hak Cipta © Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung