Setelah proses pengembangan awal selama sepuluh tahun, Buku
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), yang diluncurkan pada tahun 2003 ini.
Lima juta buku KIA, telah dicetak dan dibagikan dengan bantuan Badan
Kerjasama Internasional Jepang (JICA).
Buku ini diperkenalkan sejak
tahun 1994, dan telah digunakan di 140 kabupaten / kota di 24 provinsi,
meskipun belum pada semua fasilitas kesehatan. Lebih dari 50.000 kader
kesehatan dan 10.000 bidan dilatih mengenai buku KIA ini. Buku ini
terbukti dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kaum ibu
khususnya mengenai kesehatan ibu dan anak. Pemahaman ini diharapkan
akan dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu
(AKI) Indonesia yang sampai saat ini masih tertinggi di Asia Tenggara.
Selain menjadi acuan dan sumber pengetahuan masyarakat mengenai
kesehatan ibu dan anak, buku itu juga berfungsi sebagai buku catatan
kesehatan ibu dan anak, alat monitor kesehatan oleh petugas/tenaga
kesehatan, meningkatkan komunikasi antara dokter dan pasien. Buku ini
juga merupakan gabungan sejumlah kartu-kartu menuju sehat dan kartu ibu
hamil, serta bahan informasi kesehatan ibu dan anak sehingga lebih
efisien. Secara keseluruhan buku KIA mencakup beberapa isu strategis,
mulai dari MPS (Making Pregnancy Safer), GSI (Gerakan Sayang Ibu),
Kesehatan Reproduksi, Kadarzi (Keluarga Sadar Gizi), MTBS (Manajemen
Terpadu Balita Sakit), Gebrak Malaria, serta Hepatitis B Uniject pada
saat dilaksanakan kunjungan neonatus (1-7 hari) oleh tenaga kesehatan.
Hal tersebut mengemuka pada acara review nasional buku KIA ke-4 yang
dihadiri oleh Dirjen. Bina Kesehatan Masyarakat, Prof.DR.Dr. Azrul
Azwar,MPH dari Departemen Kesehatan dan Prof.Dr. Yasuhide Nakamura dari
Universitas Osaka, yang mewakili JICA pusat, pada tanggal 6 Agustus
2003 di Jakarta.
Prof.Dr. Yasuhide Nakamura menilai bahwa buku KIA yang digunakan
sejak tahun 1948, mampu menurunkan secara signifikan AKB dan AKI.
Karenanya Jepang merasa perlu mendukung upaya Indonesia untuk
menurunkan AKB dan AKI dengan pemberian hibah dan bantuan teknis. Buku
KIA juga digunakan negara lain di Asia. Bahkan tim penilai evaluasi
JICA untuk proyek buku KIA menilai bahwa buku KIA yang telah disebarkan
di Indonesia ternyata telah melampaui cakupan provinsi yang telah
direncanakan.
Sukses ini juga tidak terlepas dari beberapa faktor yang
berkonstribusi, terutama karena adanya komitmen politik yang kuat dari
Menteri Kesehatan dan jajarannya untuk mempromosikan buku KIA, bahkan
telah disahkan menjadi program nasional oleh Depkes.
Pemerintah Jepang memberikan rekomendasi jangka panjang dan pendek
sesuai dengan proyek yang telah berlangsung. Kebanyakan rekomendasi
jangka pendek telah ditindak lanjuti sebagai bagian yang terintegrasi
dengan WHO dalam mengukur efektivitas Buku KIA dan MTBS di Jawa Timur.
Untuk rekomendasi jangka panjang ditujukan kepada Pemerintah Daerah
agar mengalokasikan anggaran untuk penggunaan buku KIA ke dalam sistem
informasi yang telah ada dan meningkatkan kerja sama lintas sektor
dalam program Pengembangan Anak Dini Usia.
Yang menjadi permasalahan saat ini adalah hibah yang berlangsung
sejak 1994 akan berakhir September 2003, dan untuk kesinambungan
program, ada tiga hal yang hendak dilakukan : Pertama, menggunakan
anggaran rutin dari APBN dan APBD. Kedua, memasukkan ke program lain
yang sedang berjalan, misalnya proyek dari Unicef, Bank Dunia, dan ADB.
Dan ketiga, lewat jalur swasta, misalnya memberikan buku kepada bidan
desa. Bidan bisa menjual tanpa mengambil untung, uangnya untuk mencetak
lagi buku KIA, sehingga program berkesinambungan. Buku KIA juga
diperkenalkan ke fasilitas kesehatan lain, seperti klinik bersalin,
praktik dokter swasta, serta rumah sakit.
Sejalan dengan desentralisasi, perlu ada komitmen daerah untuk
kesinambungan dan kelangsungan penggunaan buku KIA setelah hibah Jepang
berakhir. DI tingkat pusat sedang disiapkan keputusan Menteri Kesehatan
tentang buku KIA. Sementara di daerah ada yang telah membuat surat
edaran bupati untuk mendukung buku KIA, bahkan ada yang membuat
peraturan daerah yang telah disetujui DPRD, salah satunya di Lombok
Tengah.
|