|
Program Kesehatan Masyarakat adalah bagian dari program pembangunan
kesehatan nasional. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan,
dengan titik berat pada upaya peningkatan kualitas hidup dan pencegahan
penyakit, disamping pengobatan dan pemulihan. Oleh karena itu program
Kesmas perlu ditingkatkan agar status kesehatan masyarakat terus
meningkat, terutama bagi wilayah/daerah dimana Angka Kematian Ibu
(AKI), Angka Kematian Balita (AKB) serta Umur Harapan Hidup rendah,
sebagai indikator yang berperan dalam Human Proverti Index (HPI).
Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2000, Angka
Harapan Hidup di Provinsi NTB dalam periode 5 (lima) tahunan menduduki
posisi yang terendah, dibandingkan dengan provinsi lain yaitu : 51,29
tahun (1992), 55,07 tahun (1997), dan perkiraan pada tahun (2002)
sebesar 63,88. Sebagai perbandingan Angka Haran Hidup yang tertinggi
adalah provinsi DI Yogyakarta yaitu 74,17 tahun (estimasi untuk tahun
2002). Selain itu berdasarkan data dari buku Indonesia Human
Development Report tahun 2001 (BPS, 2001), jika dibandingkan antar
provinsi di Indonesia, HPI untuk provinsi NTB tahun 1995 dan 1998
menduduki peringkat ke-25 dari 26 Provinsi, yaitu 34,9 tahun (1995) dan
33,7 tahun (1998). Sedangkan provinsi NTT peringkat ke-21, yaitu 29,9
tahun (1995) dan 15,5 tahun (1998). Demikian juga dengan Human
Development Index (HDI), tahun 1996 dan 1999, provinsi NTB menduduki
peringkat ke 26 (terakhir), yaitu 56,7 (1996) dan 54,2 (1999).
Sementara provinsi NTT menduduki peringkat ke-24, yaitu 60,9 tahun
(1996) dan 60,4 tahun (1999), sedangkan yang terbaik adalah DKI Jakarta
yaitu 76,1 tahun (1966) dan 72,5 tahun (1999).
Hal tersebut mengemuka dalam Pertemuan Pengembangan Program
Kesehatan Masyarakat Bagi Kabupaten/Kota dengan HPI Tinggi di Mataram �
NTB pada tanggal 3 � 5 September 2003 yang lalu. Tujuan pertemuan
tersebut adalah untuk meningkatkan pelaksanaan melalui kesamaan
pemahaman/ persepsi, dan merupakan koordinasi pengembangan program
antara pengelola program Kesmas tingkat pusat dan daerah.
Pertemuan diikuti 50 peserta dari pusat dan daerah, yang memperoleh
masukan materi mengenai program-program kesehatan dari Ses. Ditjen Bina
Kesmas, Kadinkes Prop. NTB, presentasi propinsi dan kabupaten/kota di
NTB dan NTT yang memberikan gambaran pelaksanaan, masalah dan pemecahan
program kesehatan masyarakat di Kab/Kota dalam tatanan otonomi.
Dalam kesempatan tersebut Ses.Ditjen Bina Kesmas mengemukakan bahwa
tujuan program (khusus Kesmas) adalah terselenggaranya upaya kesehatan
(masyarakat) untuk Mencapai Sehat 2010. Sementara sasarannya adalah
semakin mantapnya kebijakan pengembangan program Kesmas, terlaksananya
program/proyek/kegiatan sesuai standar, acuan, juklak dan didapatnya
informasi program Kesmas dari pencatatan-pelaporan, bimbingan teknik
dan sumber lain. Lingkup terkait dengan Ditjen Bina Kesmas adalah
pengembangan kebijakan dan manajemen Program Kesehatan Masyarakat.
Menurutnya guna mengantisipasi pelaksanaan kebijakan tersebut dapat
berjalan dengan lancar dan baik, diperlukan adanya persepsi dan
pemahaman yang sama antara para pengelola program kesmas di pusat dan
daerah. Selain itu agar upaya peningkatan derajat kesehatan dapat
berjalan secara efektif dan efisien diperlukan adanya penyesuaian
dengan diberlakukannya tatanan otonomi.
Pertemuan ini menurut Ses.Ditjen mempunyai 3 (tiga) maksud utama
yaitu : selain untuk meningkatkan pelaksanaan program kesmas melalui
kesamaan pemahaman/ persepsi tentang program kesmas di era
desentralisasi ; juga merupakan kesempatan untuk sharing informasi
tentang pelaksanaan program Kesmas di Kabuipaten/Kota, karena dapat
mendengarkan dan berdialog secara langsung dengan teman-teman di
lapangan. Ia juga mengharapkan agar seluruh jajaran Dinas Kesehatan
Propinsi NTB dan NTT dapat lebih memahami ruang lingkup program kesmas,
juga dapat mengkaji kembali perencanaan program kesmas khususnya untuk
tahun 2004,agar disesuaikan dengan anggaran yang semakin terbatas,
dengan memprioritaskan kepada kesinambungan program seperti program
Kesehatan Keluarga, pelayanan kesehatan bagi Keluarga Miskin dan
sebagainya.
Berdasarkan presentasi dan dialog yang berkembang selama pertemuan, disimpulkan bahwa :
- Pelayanan kesehatan di NTB dan NTT menunjukkan angka yang cukup
baik, namun dikaitkan dengan angka IMR, MMR dengan beberapa indikator
kemiskinan, terjadi hal yang sebaliknya. Oleh karena itu perlu
diselusuri permasalahan terjadinya kesenjangan tersebut.
- Peningkatan sarana fisik pelayanan kesehatan perlu dibarengi dengan
peningkatan manajemen, SDM dan lain-lain, sehingga upaya tersebut tidak
menimbulkan masalah baru.
- Peningkatan anggaran perlu terus dilakukan khususnya di Kab/Kota
guna membiayai program Kesmas. Sumber biaya perlu digali, sehingga
tidak terlalu bergantung kepada APBN yang anggarannya sangat terbatas.
- Struktur boleh berbeda-beda, namun prioritas program Kesmas harus
tetap dapat diakomodir, utamanya program-program dengan komitmen
nasional dan global.
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) merupakan asset SDM di usia sekolah,
oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan memperkuat manajemen maupun
sosialisasinya.
- Permasalahan bidan di desa perlu ada kejelasan, baik status maupun kewenangannya, termasuk kualifikasinya.
- Pelatihan tenaga perawat menjadi tenaga penolong persalinan, perlu dikaji kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
- Perlu ada kajian mengenai konsep Polindes termasuk standar bangunan.
- Perlu dirumuskan indicator HPI yang secara langsung berkaitan dengan upaya Kesmas.
|